Pengembangan Model Inkuiri dalam Pembelajaran Geografi
Mei 15, 2008 by listinsoleh : Lilis Tintin Suartini, S.Pd.
I. PENDAHULUAN
Nilai rata-rata Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) hanya mampu mencapai peringkat ke lima dibandingkan dengan mata pelajaran lain yaitu matematika, PPKN, IPA dan Bahasa Indonesia. Geografi sebagai bagian dari IPS tentunya memberikan konstribusi terhadap ketertinggalan mata pelajaran IPS dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Hal inilah yang menjadi dasar penilaian negatif siswa terhadap pelajaran geografi di Jawa Barat. Siswa cenderung tidak begitu tertarik dengan pelajaran geografi karena selama ini pelajaran geografi dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar geografi siswa di sekolah.
Persoalan lain yang muncul tatkala para ahli berpendapat bahwa proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat dikatakan berhasil apabila terdapat pembelajaran dan sistem. Bahkan Subyakto (1993) mengemukan bahwa proses pembelajaran mutlak dilakukan dengan melibatkan siswa secara aktif. Hal inilah yang mendasari falsafah pengajaran termutakhir yang menghendaki bahwa pengajaran harus berpusat pada siswa (student centered). Artinya pengajaran harus berkiblat pada kebutuhan siswa (student oriented).
Sehubungan dengan hal tersebut guru diharapkan mampu menciptakan situasi pembelajaran yang bisa membuat siswa aktif berperan mengekplorasi intelektualnya untuk mencapai hasil yang optimal. Posisi guru bukan saja sebagai sumber informasi utama bagi siswa, tapi juga desainer yang menciptakan situasi seimbang antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini guru harus mampu menempatkan diri pada fungsi yang lebih luas yaitu :
a. Motivator
b. Fasilitator
c. Organisator dan
d. Evaluator
Sebagai motivator, guru harus mampu mengfungsikan dirinya sebagai sumber pendorong para siswanya dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar dan proses berfikir dalam menemukan informasi. Sebagai fasilitator guru harus mampu memfungsikan dirinya sebagai penyedia situasi yang memungkinkan siswa memperoleh informasi dengan cara menunjukkan sumber-sumber informasi selain buku paket. Sebagai organisator guru harus mampu mengelola kegiatan siswa dalam upaya mencari informasi dengan cara memfasilitasi siswa agar belajar secara berkelompok. Sebagai evaluator, guru harus mampu memberikan penilaian dan umpan balik atas upaya siswa mengikuti matapelajaran yang dibinanya.
Geografi sebagai mata pelajaran yang erat kaitannya dengan alam, baik fisik maupun sosial hendaknya harus mempunyai banyak sumber pembelajaran selain buku paket yang telah ditetapkan oleh Pembina mata pelajar. Artinya alam sekitar kehidupan siswa dapat digunakan sebagai sumber dan bahan ajar serta dapat difungsikan sebagai media pembelajaran secar optimal. Apabila hal ini diterapkan maka guru geografi harus menciptakan agar siswa mengobservasi/mengamati lingkungan sekitar kemudian menciptakan konsep-konsep geografi di dalam kelas. Proses inilah yang disebut sebagai cara berfikir induktif, yang sangat mengandalkan proses penalaran dari yang bersifat umum ke khusus. Hal yang sama dapat juga dilakukan oleh siswa dengan cara perfikir deduktif yaitu mempelajari buku paket kemudian mengaplikasi konsep-konsep yang telah disediakan buku paket ke alam dan lingkungan sekitar siswa. Proses penalaran induktif dan deduktif inilah yang semestinya diterapkan dalam pembelajaran geografi agar siswa merasa dilibatkan secara aktif untuk memperoleh informasi geografi disamping buku paket.
II. MODEL INKUIRI SEBAGAI ALTERNATIF
Proses pembelajaran yang berorientasi siswa (student oriented) antara lain adalah model inkuiri. Kata inkuiri berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata kerja intransitive yang sama artinya dengan to investigate, kemudian kata itu berkembang menjadi kata benda inquiry yang memiliki makna sama dengan investigation (Hornby, 1981). Echols dan Shadly (1986) memberikan batasan terhadap kata to inquire yang berarti “menyelidiki” kemudian berkembang menjadi kata benda inqury yang berarti “penyelidikan”
Kemudian kata inquiry digunakan sebagai istilah model pembelajaran yang dikembangkan oleh Suchman (1962) yang dikenal dengan model pelatihan inkuiri. Model ini merupakan salah satu bentuk mengajar yang diambil oleh Joice dan Well (1967) dari Suchman. Menurut model ini siswa dituntun pada fenomena penyelidikan yang didasarkan pada konfrontasi intelektual yang dilakukan partisipan aktif dalam penyelidikan ilmiah.
Deskripsi diatas menggambarkan bahwa semua mata pelajaran bisa menggunakan model ini apabila guru mampu memformulasikan isi kurikulum pada suatu masalah yang dikembangkan pada situasi yang akan diselidiki siswa. Model pelatihan inquiri ini berorientasi pada suatu perkembangan jiwa siswa secara mandiri dengan menggunakan metode ilmiah dan memanfaatkan karakteristik jiwa anak sebagai partisipan aktif dalam penyelidikan ilmiah yang mempunyai keingintahuan. Dalam hal ini tugas guru adalah membimbing dengan menggunakan metode ilmiah sehingga diharapkan siswa akan menemukan sesuatu yang baru berdasarkan penyelidikannya sendiri.
Model pelatihan inkuiri ini dimulai dengan menghadirkan situasi penuh teka-teki bagi siswa yang akan termotivasi untuk mencari pemecahannya apabila mereka dihadapkan pada suatu masalah yang membingungkan. Situasi ini harus dimanfaatkan untuk menerapkan prosedur penyelidikan. Model pelatihan inkuiri dapat digunakan pada semua tingkatan usia, mulai dari anak-anak sampai dengan dewasa. Dalam kenyataan, baik disadari atau tidak, guru sering melaksanakan model ini walaupun pada tingkat yang lebih sederhana, yaitu inkuiri yang ditekankan pada pencapaian hasil. Misalnya guru menyuruh siswa menebak benda di dalam kotak dengan mengajukan pertanyaan menuju kearah penyelidikan. Model pelatihan inkuiri untuk dewasa ditekankan pada pencapaian konsep.
Dalam pengajaran mata pelajaran geografi banyak metode yang bisa digunakan, misalnya metode langsung atau audi visual. Metode yang betul-betul mengandalkan penyelidikan dalam pembelajaran geografi sangat penting dilakukan untuk lebih memahami konsep dan aplikasinya di kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian pembelajaran yang berorientasi siswa betul-betul dapat terlaksana dengan baik. Menurut Hidayat (1997) mengemukakan tiga komponen utama yang perlu diperhatikan dengan hal tersebut , yaitu :
1. Lingkungan siswa, termasuk manusia disekitarnya, sebagai lapangan penyelidikan
2. proses penyelidikan
3. Penjelmaan siswa, yang dimanifestasikan dalam kemampuan memahami lingkunagan yang ada disekitarnya
Ketiga komponen inilah yang ditransfer ke dalam kelas sebagai asas strategi penyelidikan dalam pembelajaran geografi. Lingkungan yang berada di sekitar siswa (rumah tinggalnya/sekolah) ditransformasikan ebagai sumber data, kemudian temuannya dijadikan bahan memecahkan masalah geografi yang sedang ditekuninya. Oleh karena itu, guru yang menggunakan model pelatihan inkuiri harus mempersiapkan data “kegeografian” yang sesuai dengan tujuan pembelajarannya baik berupa gambar/foto atau sumber data lain yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Guru harus membimbing siswa mengadakan penyelidikan dan mengolah data yang tersedia. Selain itu guru harus meneliti hasilnya bersama-sama dengan siswa. Guru juga harus bisa mimilih pokok bahasan/materi yang dapat menggunakan model ini. Perlu diingat tidak semua pokok bahasan dan standar kompetensi dapat menggunakan model ini. Karena kemungkinan buku paket yang tersedia tidak dirancang untuk model pelatihan inkuiri.
III PENUTUP
Pengajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Pengajaran geografi akan berjalan dan berhasil dengan baik manakala mampu mengubah diri peserta didik (siswa) selama ia terlibat di dalam proses pengajaran itu, dan dapat dirasakan manfaatnya secara langsung. Dalam pembelajaran memerlukan media yang sesuai, karena faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran antara lain belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun oleh siswa (peserta didik). Sumber belajar yang dimaksud tentunya bukan hanya buku paket tetapi lingkungan sekitar sekolah atau siswa dapat dijadikan sebagai sumber belajar sekaligus media pembelajaran.
Sehubungan dengan itu model inkuiri diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sekolah dan siswa sebagai sumber belajar yang efektif. Dengan demikian mata pelajaran geografi yang dianggap mata pelajaran yang hanya mengandalkan hapalan dapat diubah menjadi mata pelajaran yang menyenangkan sekaligus meningkatkan kemampuan nalar siswa.